Nama :
Muhamad Galang Isnawan
NIM : 1270
9251 021
Prodi :
Magister Pendidikan Matematika
Kelas : A
2012
http://www.ziddu.com/download/20949147/Prof.Marsigit31.rar.html
Surat
Untuk Guruku
(Refleksi
19 November 2012)
Ass.Wr.Wb.
Dalam berfilsafat
tidaklah kita memerlukan pengetahuan yang terlalu PURNA mengenai objek
filsafat. Akan tetapi, untuk berfilsafat juga kita membutuhkan suatu
pengetahuan yang lebih mengenai objek tersebut, tidaklah kita bisa berfilsafat
mengenai sesuatu objek jika kita kemampuan kita mengenai objek tersebut
sangatlah sedikit. Hal ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya filsafat itu bisa
dilakukan oleh siapapun, tidak hanya hak-haknya para dewa.
Sungguh, filsafat
adalah hidup karena hidup sangat membutuhkan filsafat. Filsafat mengajarkan
kita agar bisa menterjemahkan dan diterjemahkan. Hermeneutika, itulah yang
dimaksudkan. Dengan adanya menterjemahkan, maka akan muncullah suatu ilmu dalam
diri kita. Ilmu dalam arti yang seluas-luasnya dan dalam arti yang
sedalam-dalamnya. Diterjemahkan mengajarkan kita akan kehidupan, bahwa
kehidupan tidaklah sendiri melainkan membutuhkan orang lain. Dengan adanya
diterjemahkan ini, sungguh kita akan mengetahui kedudukan kita di dalam subjek
penterjemah. Apakah kita baik atau tidak. Gunakakanlah hasil dari diterjemahkan
oleh subjek penterjemah itu untuk melakukan perbaikan dalam kehidupan kita demi
kebaikan bersama.
Ada hal dalam filsafat yang
sangat berkaitan dengan kehidupan menurut saya, yaitu kategori. Pengetahuan
adalah kategori. Ilmu adalah kategori. Kategori adalah salah satu bentuk dari
intuisi ruang. Hidup tidaklah bisa lepas dari pengetahuan, ilmu, dan intuisi.
Bahkan hampir 80% dari hidup kita adalah intuisi. Sehingga dapat kita simpulkan
bahwa sungguh kategori sangatlah penting dalam kehidupan ini. Salah satu
contohnya adalah kategori mengenai hal yang baik dan buruk. Sekarang bayangkan,
apa yang akan terjadi jika kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan
buruk?. Tidakkah kita akan sama dengan binatang?. Nauzubillahiminzalik. Kategori
baik dan buruknya sesuatu semuanya sudah ditentukan oleh suatu pedoman hidup,
yang secara umum kita kenal sebagai agama (ISLAM). Sungguh semua pengkategorian
mengenai baik dan buruknya sesuatu sudah terdapat di dalam Al-Qur’an dan
Al-Hadits.
Dari penjelasan di
atas, saya menemukan sesuatu hal yang unik mengenai kategori. Menurut saya
kategori adalah membedakan. Dan kategori sangatlah berkaitan dengan spiritual. Membedakan
dalam arti yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Dengan adanya pengkategorian,
kita dapat membedakan antara hak dan kewajiban. Mana yang subjek, mana yang
objek. Mana yang guru, mana yang siswa. Mana yang imam, mana yang makmum. Mana
yang tesis, mana yang anti tesis. Begitupun seterusnya. Saya juga melihat di
sini, bahwa ternyata ketegori menghasilkan sesuatu yang kontradiksi.
Antara ketegori dan
kontradiksi, ternyata memilki suatu hubungan berupa hubungan kausalitas.
Hubungan ini menandakan bahwa sebenarnya antara kategori dan kontradiksi
memiliki hubungan, hubungan yang koheren. Koheren diartikan sebagai keterkaitan
antara objek yang satu dengan yang lain. Dalam kasus ini antara kategori dan kontradiksi.
Sehingga dalam refleksi ini, saya ingin menanyakan beberapa hal yang masih
membingungkan saya pak prof:
“Apakah
kategori itu benar-benar berkaitan dengan membedakan?”
“Apakah
kategori itu sebenarnya yang memunculkan istilah kontradiksi?”
“Apakah
kategori itu berkaitan dengan filsafat koheren atau koherentism?”
Mohon penjelasannya pak
prof. Mohon maaf jika ada kata saya yang salah dan terima kasih atas semuanya
pak prof.
Was.
Wr. Wb.