Kamis, 22 November 2012

Refleksi Beserta Rekaman II (19 November 2012)

 
Nama   : Muhamad Galang Isnawan
NIM    : 1270 9251 021
Prodi   : Magister Pendidikan Matematika
Kelas   : A 2012


Ini link rekamannya pak:

http://www.ziddu.com/download/20949147/Prof.Marsigit31.rar.html

Surat Untuk Guruku
(Refleksi 19 November 2012)
Ass.Wr.Wb.
Dalam berfilsafat tidaklah kita memerlukan pengetahuan yang terlalu PURNA mengenai objek filsafat. Akan tetapi, untuk berfilsafat juga kita membutuhkan suatu pengetahuan yang lebih mengenai objek tersebut, tidaklah kita bisa berfilsafat mengenai sesuatu objek jika kita kemampuan kita mengenai objek tersebut sangatlah sedikit. Hal ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya filsafat itu bisa dilakukan oleh siapapun, tidak hanya hak-haknya para dewa.
Sungguh, filsafat adalah hidup karena hidup sangat membutuhkan filsafat. Filsafat mengajarkan kita agar bisa menterjemahkan dan diterjemahkan. Hermeneutika, itulah yang dimaksudkan. Dengan adanya menterjemahkan, maka akan muncullah suatu ilmu dalam diri kita. Ilmu dalam arti yang seluas-luasnya dan dalam arti yang sedalam-dalamnya. Diterjemahkan mengajarkan kita akan kehidupan, bahwa kehidupan tidaklah sendiri melainkan membutuhkan orang lain. Dengan adanya diterjemahkan ini, sungguh kita akan mengetahui kedudukan kita di dalam subjek penterjemah. Apakah kita baik atau tidak. Gunakakanlah hasil dari diterjemahkan oleh subjek penterjemah itu untuk melakukan perbaikan dalam kehidupan kita demi kebaikan bersama.
Ada hal dalam filsafat yang sangat berkaitan dengan kehidupan menurut saya, yaitu kategori. Pengetahuan adalah kategori. Ilmu adalah kategori. Kategori adalah salah satu bentuk dari intuisi ruang. Hidup tidaklah bisa lepas dari pengetahuan, ilmu, dan intuisi. Bahkan hampir 80% dari hidup kita adalah intuisi. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa sungguh kategori sangatlah penting dalam kehidupan ini. Salah satu contohnya adalah kategori mengenai hal yang baik dan buruk. Sekarang bayangkan, apa yang akan terjadi jika kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan buruk?. Tidakkah kita akan sama dengan binatang?. Nauzubillahiminzalik. Kategori baik dan buruknya sesuatu semuanya sudah ditentukan oleh suatu pedoman hidup, yang secara umum kita kenal sebagai agama (ISLAM). Sungguh semua pengkategorian mengenai baik dan buruknya sesuatu sudah terdapat di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Dari penjelasan di atas, saya menemukan sesuatu hal yang unik mengenai kategori. Menurut saya kategori adalah membedakan. Dan kategori sangatlah berkaitan dengan spiritual. Membedakan dalam arti yang sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Dengan adanya pengkategorian, kita dapat membedakan antara hak dan kewajiban. Mana yang subjek, mana yang objek. Mana yang guru, mana yang siswa. Mana yang imam, mana yang makmum. Mana yang tesis, mana yang anti tesis. Begitupun seterusnya. Saya juga melihat di sini, bahwa ternyata ketegori menghasilkan sesuatu yang kontradiksi.
Antara ketegori dan kontradiksi, ternyata memilki suatu hubungan berupa hubungan kausalitas. Hubungan ini menandakan bahwa sebenarnya antara kategori dan kontradiksi memiliki hubungan, hubungan yang koheren. Koheren diartikan sebagai keterkaitan antara objek yang satu dengan yang lain. Dalam kasus ini antara kategori dan kontradiksi. Sehingga dalam refleksi ini, saya ingin menanyakan beberapa hal yang masih membingungkan saya pak prof:
“Apakah kategori itu benar-benar berkaitan dengan membedakan?”
“Apakah kategori itu sebenarnya yang memunculkan istilah kontradiksi?”
“Apakah kategori itu berkaitan dengan filsafat koheren atau koherentism?”
Mohon penjelasannya pak prof. Mohon maaf jika ada kata saya yang salah dan terima kasih atas semuanya pak prof.
Was. Wr. Wb.